Home > Artikel, Marxis, Post Marxis > MARXIS VS POST MARXIS

MARXIS VS POST MARXIS

MARXIS VS POST MARXIS

Oleh : Rudi Salam Sinaga

Mahasiswa Departemen Ilmu Politik

FISIP USU

Nim. 030906082

  

Pendahuluan

Wacana perdebatan mengenai kontradiksi keunggulan antar keduannya (marxis dan post marxis) mulai menghangat tatkalah ketika isu globalisasi mulai menunjukan kontruksi bangunan yang tampak jelas terlihat. Kontradiksi tersebut menhadirkan wacana tentang bagaimana sebuah ideology yang tepat untuk diusung dalam konteks kehidupan kekinian yakni masa kini.  Kekinian ataupun masa kini adalah sebuah ruang waktu yang berbeda dan terus berjalan kedepan sesuai dengan khendak kepentingan jaman, adakalanya pada masa lalu sesuatu hal sangat dianggap tepat untuk diterapkan atau bisa saja menjadi sangat tidak mungkin untuk dikedepankan pada masa kini.

Dari pemikiran keduannya dapat dipahami sebagai pemikiraan yang terilhami dari timbulnya empati akan situasi kehidupan umat manusia dalam kerangka bernegara serta kemudian berorientasi memberikan rasa keadilan bagi warganya dalam segala hal (politik, ekonomi, hukum, dll) yang kemudian dipahami sebagai merupakan awal yang penting dalam membangun sebuah kepercayaan terhadap keberadaan negara. Peranan negara menjadi pusat kajian antar kedua pandangan (marxis dan post marxis) tersebut yang menempatkan hadirnya pemikiran yang tepat untuk dirujuk yang kemudian berusaha mengedepankan persoalan kemaslahatan umat manusia sebagai makhluk sosial.

Gagasan tentang konsep hubungan antar warga dan negara dalam referensi-referensi yang telah ada menggambarkan beragam varian yang menjanjikan menjadi sebuah hal yang dapat untuk diadopsi, tentu guna mengusung konsep yang telah ada haruslah diimbangi dengan kesepemahaman bersama tentang hal yang dimaksud.

  Marxis

Marxis adalah pandangan yang lahir dari pemikir sosial bernama Karl Marx, dalam pandangannya yang berorientasi tentang hubungan negara dan warganya Marx menyinggung tentang persoalan sosial yang ada dalam konteks negara dan warganya. Argumentasi tentang adanya persoalan kelas sosial yang kemudian diyakini sebagai teori kelas, memberikan pandangan tentang persoalan kelas sosial akan selalu dominan serta timbul dalam mewarnai konteks hubungan negara dan wargannya.

Marx meyakini negara merupakan sebuah alat penindas yang bagi kaum pemodal dapat diatur sekhendaknya agar apa yang menjadi khendak para pemodal dapat berjalan secara sah, lebih jauh lagi Marx dengan pandangan ekonominya membahas tentang yang olehnya disebut sebagai perampokan atas nilai. Artinya dalam perjalanan ekonomi negara, yang diasumsikan lewar industri ataupun pabrik tidak berperilaku jujur serta adil dalam memperoleh keuntungan yang didapat, Marx amat yakin, bahwa buruh pekerjalah yang semata-mata menghadirkan keuntungan tersebut lewat upaya kerja keringat mereka di industri ataupun pabrik-pabrik, lalu alasan apakah bagi indusri/pabrik untuk tidak menempatkan buruh atau pekerja agar dapat merasakan nilai/upah yang layak dari nilai lebih yang didapat industri/pabrik tersebut.

Pandangan Marxis yang ada seperti dilakoni lewat pandangan Hegel juga menempatkan negara sebagai sebuah alat penghisap bagi wargannya, dasar asumsi yang digunakan oleh Hegel pada prinsipnya adalah sama seperti apa yang dikedepankan oleh Marx tentang kaum pemodal yang selanjutnya disebut sebagai kaum kapitalis, tetapi juga dilain kesempatan Hegel menyinggung tentang eksistensi dari pada negara yang baginya harus diatur ruang lingkupnya agar segala sesuatunya tidak harus didasari oleh dominasi negara sehingga terbuka ruang gerak yang bebas bagi warga untuk dapat berproses tentang apa saja yang menyakut kehidupannya.

Dalam mewujudkan impian yang olehnya diyakini sebagai tujuan dari kemaslahatan umat manusia yang adil, pandangan Marxis menempatkan perjuangan fisik lewat revolusi sebagai jalan guna melawa negara sehingga apa yang dicita-citakan dalam pandangannya dapat diformat kembali setelah negara diambil alih, maka akan berdirilah kaum proletar (buruh, warga sipil) sebagai pemenang di situasi ini dan menghadirkan situasi yang memiliki nilai  yang sama dalam hubungan antar manusia dalam segala sesuatunya. Lalu apakah kemenanganb proletar akan menjadikan sebuah rezim yang baru dalam situasi ini, tentu rejim yang baru akan hadir atau juga mungkin bagi sebahagian kalangan meyakini sebagai rezim diktator proletar yang sangat anti dengan  adannya kelas-kelas dalam sosial.

  Post Marxis

Dunia kini telah memiliki imperium sosial yang amat berbeda pada masa lalu, konteks pembaharuan dalam segala aspek kehidupan sosial manusia maupun bernegara telah mengalami pergeseran kearah yang berbeda dari yang sebelumnya.  Dunia saai kini juga telah memandang varian yang ada pada basis material manusia merupakan suatau hal yang alami serta juga memiliki nilai peradaban yang sangat dihargai pada dunia demokrasi, sama halnya dalam setiap situasi sosial kehidupan manusia pergeseran peradaban yang ada telah menhadirkan gaya yang baru juga bagi negara dalam melaksanakan perannya.

Post Marxis adalah pandangan yang diilhami dari situasi sosial masyarakat dalam konteks internasional yang diyakini kemudian sebagai era globalisasi yang diiringi atas segala tentangnya termasuk persaingan ataupun kerjasama antar individual atau negara guna menciptakan situasi yang nyaman bagi semua pihak.  Ketidak berkepihakan atas ide gagasan yang mengedepankan cara yang dianggap frontal guna menanggapi perbedaan adalah hal yang tidak tepat dalam pandangan ini, karena bagi pandangan Post Marxis pembangunan didunia saat kini yang berjalan dinamis haruslah menempatkan pertarungan ide gagasan sebagai hal yang bermartabat serta juga sebagai gambaran dari dunia yang berkeadaban.  Isu-isu tentang pluralisme dan segala perubahan adalah hal yang telah harus terjadi sebagaimana dengan kemampuan apa yang telah dimiliki oleh individu ataupun negara.

Pendekatan kekerasan dalam pandangan Post Marxis tidak dipandang sebagai media penting dalam upaya mengadopsi ataupun mentransformasikan suatu ide gagasan, yang dalam pandangan ini sangat mengedepankan pendekatan yang lebih rasional serta bermartabat melalui medium dialog.  Argumentasi yang mendasar bersandar pada realita sosial merupakan hal yang sangat relevan dalam menjawab segala persoalan yang ada.

Kesimpulan

Kedua pandangan diatas yakni Marxis dan Post Marxis dipahami sebagai tujuan guna menciptakan situasi sosial yang layak serta bersandar tentang pentingnya kemaslahatan umat manusia, hanya saja kondisi saat ini tentu telah memiliki nilai yang lebih dalam bagaimana manusia sebagai makhluk sosial dapat mencerminkan akal pikiran yang baik paling tidak menghormati akan kebebasan, dan hak-hak lainnya yang semakin jelas telah dirasakan oleh warga negara didunia saat kini. Tentu pula cara pandang tentang hubungan negara dan warganya haruslah disesuaikan dengan peningkatan nilai sosial yang telah disebut diatas.

Jika domainnya diorientasikan pada konteks negara dan warga atas tentang keadilan, maka sudah seharusnya warga dengan perkembangan yang telah ada saat ini harus dapat membekali dirinya sebagai warga yang handal dalam artian menempatkan hak dan kewajibannya atas negara maka sudah sepatutnya pengembangan pilar civil society yang diantaranya adalah Pers, LSM, Perguruan Tinggi, Partai politik harus memaksimalkan perananya atas negara, lalu sampailah pada dasar asumsi yang dapat dipahami adalah mengapa negara terlalu kuat, karena civil society sangat lemah.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: