Home > Tulisan > Aplikasi Konsep Pendekatan Politik Dalam Melakukan Analisis Politik

Aplikasi Konsep Pendekatan Politik Dalam Melakukan Analisis Politik

 

APLIKASI KONSEP PENDEKATAN POLITIK DALAM MELAKUKAN

ANALISIS POLITIK

Oleh; Rudi Salam Sinaga

 

Konsep dan Implementasi Analisis Politik

Dalam melakukan studi kajian politik yang menyandarkan kegiatan analisis politik maka perlu sebelumnya untuk memahami kembali makna dari tujuan melakukan analisis. Unit analisis yang digunakan pada pendekatan politik ialah dengan menggunakan metodologi ilmu politik, dan pada kesempatan untuk melakukan kegiatan analisis maka perlu bagi seorang individu untuk memahami kerangka berfikir analisis politik sebelum melakukan sebuah analisis sehingga pada proses analisis nantinya akan mampu menjelaskan fenomena politik secara sistematik dan mendasar pada teori dan metode yang tepat. Untuk melahirkan kerangka berfikir analisis yang baik maka bagi seorang individu harus lebih dulu dapat memahami nilai-nilai dari aspek sudut pandang ontologis, epistemologis, dan axiologis.

Ontologi adalah ilmu pengetahuan yang didalamnya memiliki nilai-nilai tertentu dalam memandang sebuah fenomena, saat ini Ontologi dipandang sebagai bagaimana individu melihat alam jagad raya ini berikut isinya dengan dipengaruhi basis nilai (material) yang ada pada dirinya, basis material tersebut bisa dimisalkan ideologi, agama, adat dan lain sebagainya, dan kemudian basis material inilah yang kemudian melahirkan sebuah penilaian tentang sesuatau halnya. Secara sederhana ontologi dipahami sebagai sebuah pengetahuan atau ilmu yang diperoleh dari pengaruh-pengaruh yang disengaja ataupun tidak. Epistemologi dipahami sebagai realitas yang muncul setelah melalui usaha pendekatan-pendekatan tertentu untuk melihat kebenaran sesungguhnya yang sebelumnya telah dipengaruhi dengan nilai-nilai tertentu dalam pelaksanaanya, sementara axiologis dipahami Sementara Axsiologi adalah sebuah nilai yang telah dipahami kegunaannya dipakai untuk tujuan tertentu akhirnya, aksi tersebut muncul setelah melalui ontologi dan epistemologi.

Ketiga hal ini (ontologis, epistemologi, axiologi) kemudian berguna menjelaskan mengapa nilai tersebut berada pada posisi tertentu. Ketika pemahaman mengenai ontologis, epistemologis dan axsiologis telah dimiliki oleh seorang individu maka akan dapat melakukan analisis terhadap fenomena yang terjadi, pada bidang politik maka hal diatas dapat memudahkan untuk melakukan analisis terhadap fenomenologi politik secara sistematik dan komperhensif dengan menyandarkan pada metodologi ilmu politik.

Apter dan Andrian (1968) merangkum tiga pendekatan utama dalam studi Ilmu politik yakni, Pertama ialah pendekatan normatif (normative approach); diartikan sebagai evolusi demokrasi konstitusional sebagai perwujudan utama modrnisasi. Ini merupakan pendekatan favorit bagi para ilmuan politik yang perhatian utamanya adalah tentang sejarah gagasan-gagasan politik dan sosiologi ilmu pengetahuan. Pendekatan normatif merupakan kecendrungan tradisional yang sudah digunakan sejak ilmu politik masi menyatu dengan ilmu filsafat. Pendekatan ini meneliti nilai nilai kebudayaan dalam masyarakat yang dianggap baik. Analisis normatif mencoba meningkatkan observasi empiris kasar atas berbagai peristiwa, dan mencari maknanya yang lebih dalam dengan mengaitkannya ke nilai-nilai masyarakat yang diamati. Analisis normatif menggunakan masyarakat secara keseluruhan sebagai unit analisisnya, dan terkadang merngasumsikan bahwa perubahan dalam masyarakat merupakan konsekuensi dari suatu proses dialektis antara nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang saling bertentangan.

Kedua, Pendekatan struktural (structural approach), Apter dan Andrian membedakannya menjadi lima macam  sesuai dengan penekananya, yakni seperti digambarkan dalam tabel;

Pendekatan Struktural; pengkasifikasian Penekanan
Pendekatan Institusiaonal legal dan formal Seringkali bersifat adminitratif; ini merupakan fokus para spesialis yang mempelajari seluk beluk kerajaan penguasa (eropa) dan daerah-daerah jajahan  sebelum PD II
Pendekatan struktur neo-institusional Berfokus pada konstitusi; struktur legal,Birokrasi dan partai politik
Pendekatan kelompok Berfokus pada kelompok, baik itu yang formal seperti partai politik, gereja dan militer, maupun yang informal seperti serikat buruh, asosiasi pengusaha, dan himpunan petani
Pendekatan struktur dan fungsi Mencoba merumuskan sistem dari berbagai bagian yang saling berhubungan
Pendekatan struktur dalam bentuk kelompok dan kelas Oleh kaum neo marxis dianalisa berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonominya.

Para analis strukturalis cendrung mengedepankan isu-isu stabilitas dan pemeliharaan sistem. Seluruh masyarakat atau negara, yakni unit-unit makro, dipelajari, dan sumsi-asumsinya mengenai pembangunan beragam, mulai dari penekanan atas perlunya pemisahan kekuasaan diantara lembaga-lembaga resmi pemerintahan disatu sisi, hingga perbenturan antara kelas-kelas ekonomis dominan disisi lain.

Ketiga, pendekatan prilaku (behavioral approach), yang banyak dipengaruhi psikologi. Pendekatan ini berfokus kepada serangkaian masalah yang terkait dengan proses pembelajaran dan sosialisasi, motivasi, persepsi sikap terhadap kekuasaan, dan sejenisnya. Unit analisisnya adalah individu dan kelompok kecil. Apter dan Andrian mengidentifikasikan asumsi behafioral dengan optimisme bahwa perubahan itu perlu dan kapan saja bisa terjadi, dan bahwa pembangunan itu merupakan konsekuensi keinginan orang-orang bagi adanya kemajuan atau perubahan. (Ronald H. Chilcote; 2004, Teori Perbandingan Politik)

Dalam melakukan analisis politik hal yang penting juga untuk diperhatikan selanjutnya adalah konsepsi untuk melakukan analisis yang akan dilaksanakan. Karena analisis politik memiliki berbagai dimensi-dimensi analisis. Dimensi-dimensi analisis politik mencakup dimensi Filsafat Politik (Phylosophy), dimensi Faham Kelembagaan (Institutionalism), dimensi Tingkahlaku / kultural(Behavioralism/culturalism),dimensi Kemajemukkan (Pluralism),dimensi Struktural (structuralism),dimensi Paham  Pengembagaan (developmentarism). Untuk mengkontruksikan sebuah analisis pada dimensi-dimensi analisis politik diatas maka konsep pendekatan analisis yang dapat digunakan adalah pendekatan klasik, fenomenologik/empirik dan konsentris/spesifik.

Model Pendekatan Analisis Tokoh Pengguna
Klasik (Rationalistik) Aritoteles, Habermas, Frans Magnis Susena, Muji Sutrisno, Taufik Abdullah, Sartono kartodirjo, Ong HoKham
Empirik (Fenomenologik) Hauzer, Dwight Kings, SPH, Lance Castel, 

Deliar Noer, Arif  Budiman,

Mohtar pabotingi

 

Spesifik (Konsentris) Kwik Kian Gie. 

 

Literatur yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh pengguna pendekatan analisis politik diatas, dapat sangat membantu individu dalam menelusuri kerangka berfikir dan metodologi politik yang digunakan. Membaca literatur-literatur yang memiliki spesifikasi terhadap salah-satu pendekatan analisis akan memberikan referensi bagi Individu untuk melakukan analisis secara baik dan jelas (sistematik). Tentu ada perbedaan dimensi kerangka berfikir dari ketiga model pendekatan diatas (Klasik, Empirik, Spesifik) untuk dapat menjelaskan dimensi perbedaan kerangka berfikir tersebut maka akan sangat membantu jika individu membaca literatur-literatur dari tokoh-tokoh oengguna pendekatan analisis politik diatas sehingga akan menemukan arti mendalamnya dari masing-masing pendekatan.

Pada usaha melakukan kajian analisis politik dengan menggunakan pendekatan yang telah ada diatas, maka untuk memudahkan analisis tersebut diklasifikasikanlah pendekatan diatas berdasarkan bidang kajian masing-masing. Artinya setiap pendekatan memiliki bidang kajian masing-masing. Untuk memudahkan seorang individu dalam melakukan analisisnya agar pendekatan yang digunakan mampu mekontruksikan subjek yang akan dianalisis, tentu perlulah untuk memahami juga klasifikasi dari pendekatan yang ada dengan bidang kajian yang terkait. Klasifikasi pendekatan dengan bidangkajian tersebut didasarkan pada model pendekatan, tekanan perhatian, bidang kajian dan tema politik. Dari pengklasifikasian ini diharapkan dalam melakukan analisis akan mampu menghasilkan sebuah analisis yang “baik” dan sistematik. misalkan Pendekatan utama yang digunakan adalah Filsafat Politik, maka tekanan kajiannya ialah Analisa logika, asas-asas masyarakat yang baik, dasar moral dari wewenang. Dengan bidang kajian Sejarah ide dan filsafat politik. Contoh tema politik yang akan dianalisis ialah Ideologi, Filosofi, nilai-nilai dan sejarah politik. Pengklasifikasian ini akan lebih jelas disebutkan dalam tabel berikut ;

No Pendekatan utama Tekanan perhatian Bidang kajian Tema Tema Politik

2

3

4

5

6

Filsafat politik 

Paham kelembagaan

Paham tingkahlaku

Paham kemajemukan

Paham struktural

Paham perkembangan

Analisa logika, asas-asas masyarakat yang baik, dasar moral dari wewenang. 

Analisa hukum dan sejarah, metode-metode deskriptif dan perbandingan, teori kelompok kepentingan.

Metode eksperimental, analisa psikologi, teori proses belajar, teori pengambilan keputusan dan organisasi.

Teori partisipasi, metode empiris, teori koalisi, tingkahlaku, maksimalisasi.

Teori pertukaran, analisa peran, analisa kelas, analisa marxis, fungsionalis, linguistik.

Teori-teori transisi, pertumbuhan, sebab-sebab inovasi, ketidakmantapan, rezim-rezim politik.

Sejarah ide dan filsafat politik. 

Politik Amerika, perbandingan dan internasional, partai, konstitusi

Pendapat umum, pemberian suara, koalisi, tindakan kekerasan, ideologi.

Partai politik, sistem pemilihan, tingkahlaku legislatif, pemerintahan nasional, kekuasaan komunitas.

Kelas dan elit, perubahan dan revolusi ideologi dan kedudukan sosial, stabilitas dan integrasi.

Wilayah-wilayah sedang berkembang, Revolusi kolonialisme, dan imperialisme, bangsa-bangsa baru, nasionalisme.

Ideologi, Filosofi, nilai-nilai dan sejarah politik 

Hubungan  antara supra struktur  dan infra struktur serta (eksekutif, legislatif, kelompok kepentingan, kelopok penekan

Demokrasi, pemilu, dan Budaya Politik

Kebangsaan Demokrasi, pemilu, dan Budaya Politik

Proses Politik dan Kebijakan Negara Sistem kepartaian

Dinamika politik Indonesia dalam tataran lokal ,nasional, regional, global

(diolah dari berbagai sumber)

Guna mencapai pemahaman yang baik bagi individu dalam mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis serta menyimpulkan fenomenologi politik tentulah harus diperkuat dengan pemahaman basis-basis teori politik yang ada (Grand Theory, Midle Theory dan Litle Theory) pemahaman akan hal ini sangatlah dapat membantu dalam menempatkan teori secara khusus sehingga analisis yang dilahirkan akan dapat menjelaskan fenomena politik yang dianalisis secara jelas.

Analisis Politik Lokal; Provinsi Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi yang memiliki ragam etnisitas (heterogen) inilah kemudian menjadikan dasar bagi asumsi minimnya potensi konflik horizontal diprovinsi ini terlebih jika dilihat ditiap daerah kabupaten/kota yang ada padanya menggambarkan pluralistik dan multikulturalisme yang bisa dikatakan juga di beberapa kabupaten/kota besar hampir tidak ditemukan suku/etnis yang dominan. (walau dominasi etnisitas tersebut masih terasa di beberapa kabupaten kota tetapi jika dilihat akumulasi secara luas (tingkat provinsi) maka ditemukan angka-angka jumlah etnisitas satu dan yang lainnya berdekatan) mungkin ini juga efek dari program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintahan Suharto di masa yang lalu.

Berikut ini akan dianalisis peta politik pemulu legislatif 2009 serta orientasi politik dari masyarakat Propinsi Sumatera Utara pada momentum pemilihan umum kepala daerah/Gubernur yang didasarkan pada pendekatan behavioral approach. Analisis dengan pendekatan ini dipotretkan melalui peraran beberapa variabel yang ada pada masyarakat dalam menentukan sikap politik/orientasi politiknya yang disandarkan pada etnisitas, finansial, religi, idiologi dan lain sebagainya. Orientasi politik yang disandarkan pada beberapa pendekatan variabel tersebut ditelaah dan dipersepsikan kembali dengan melihat literatur serta penelitian yang telah ada terkait dengan orientasi politik masyarakat/daerah di Provinsi Sumatera Utara (seperti Bungaran Simanjuntak) serta realitas politik lokal yang terpotret melalui media masa yang mencerminkan prilaku masyarakat dalam kaitan pada orientasi sikap politiknya di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dapat diperskriptifkan dengan pemetaan politik dibawah ini; orientasi politik masyarakat cendrung menggunakan pendekatan etnisitas sebagai pendekatan awal dalam melihatta fenomenologi politik terkait dengan figur politik mana yang akan dipilih, pendekiatan kedua ialah pendekatan finansial yang diartikan oleh sebagian masyarakat bahwa masyarakat merasa perlu memperoleh kompensasi pada awal masa pemilihan dan tidak akan mempermasalahkan apakah misi seorang kontestan politik akan terealisasi setelah pemilu, persepsi ini muncul ditengah masyarakat dikarenakan budaya politik para kontestan terdahulu kerap melupakan janji-janji di masa kampanyenya efeknya masyarakat memanfaatkan momen pemilu untuk mengambil keuntungan “sesaat” dan “cepat” yakni menyukai model pendekatan “money politic”.

Model orientasi pendekatan etnisitas kerap muncul pada daerah kabupaten-kota yang memiliki sejarah yang erat terhadap keberadaan daerah tersebut serta memiliki nilai tersendiri terhadap eksistensi etnisitas mereka bagi berkembangnya daerah tersebut misalkan daerah yang secara history memiliki keterkaitan dengan etnisitas melayu, batak, pak-pak, karo. Etnisitas ini kemudian akan menampakkan eksistensinya pada pemilu melalui pendekatan etnisitas dalam menentukan figur kontestan di pemilu. Jika orientasi ini realitasnya telah bergeser pada orientasi lain maka orientasi yang mungkin sekali ada orientasi dengan menggunakan pendsekatan finansial. Asumsinya ialah ketika isu etnisitas kemudian pada akhirnya kerap tidak mendatangkan perubahaan yang berarti bagi etnisitas tertentu maka etnis yang ada cendrung beralih pada figur yang dermawan walau figur tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan etnis yang dimaksudkan.

Orientasi finansial kerap muncul didaerah-daerah yang memiliki tingkat ekonomi bawah yakni daerah kabupaten-kota yang masih dalam proses pengembangan atau daerah kabupaten kota yang “lambat” memajukan daerahnya dikarenakan faktor-faktor negatif seperti budaya birokrasi yang koruptif, nepotisme dan kolusi. Kondisi ini kemudian melahirkan pradigma masyarakat berubah kearah pradigma pesimistik-realistik. Masyarakat tidak mementingkan apakah figur tersebut berasal dari etnis yang sama terhadap dirinya, melainkan lebih memilih figur yang dermawan walau etnisnya berbeda dengan dirinya, pradigma ini muncul dengan alasan masyarakat membutuhkan “keuntungan” yang dapat dirasakan secara cepat. Misalkan lebih tertarik dengan isu pembagian sembilan bahan pokok dan pemberian sejumlah uang ketimbang isu perubahan dan pembangunan daerah ataupun isu akan direkrutmen menjadi pegawai birokrasi.

Orientasi dengan pendekatan religi hadir pada daerah yang memiliki persentasi agama yang tidak jauh berbeda dengan agama lainnya, atau sederhananya hadirnya dua agama atau lebih yang memiliki sedikit perbedaan secara kuantitas. Biasanya isu agama akan mengental pada daerah-daerah ini dimisalkan daerah-daerah yang memiliki persentase kuantitas agama yang berimbang satu dengan yang lainnya.

Analisis Politik Lokal Provinsi Sumatera Utara

Analisis Politik Lokal Provinsi Sumatera Utara download disini..

 

Categories: Tulisan
  1. October 7, 2014 at 6:21 am

    Terima kasih tentang artikel nya pak..
    sangat membatu saya

    • rudisalams
      April 4, 2015 at 10:02 am

      Fauzi Koto : ok trims semoga bermanfaat

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: